Kutip.id,Kutai Kartanegara – Anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Rahmat Dermawan, menghadirkan cara berbeda dalam menyampaikan laporan kinerjanya kepada publik. Ia merilis film dokumenter berjudul Penyambung Lidah Rakyat sebagai rangkuman satu tahun kiprahnya di lembaga legislatif.
Film tersebut memuat berbagai aktivitasnya selama menjabat, mulai dari advokasi persoalan warga, pengawalan program pembangunan daerah, hingga pendampingan masyarakat dalam mengakses layanan publik. Seluruh materi diolah dari dokumentasi kegiatan yang dikumpulkan oleh relawan dan timnya sejak awal masa jabatan.
Rahmat menjelaskan, judul film itu bukan sekadar slogan. “Sejak masa kampanye saya sudah menggunakan tagline Penyambung Lidah Rakyat. Film ini menjadi bentuk pertanggungjawaban moral sekaligus refleksi perjalanan selama satu tahun,” ujarnya, Rabu (04/03/2026).
Tak hanya menyoroti aktivitas kedewanan, dokumenter tersebut juga mengangkat latar belakang kehidupan pribadinya sebelum terjun ke politik. Ia menuturkan berasal dari keluarga sederhana, dengan ibu seorang pedagang dan ayah petani. Pengalaman itu, menurutnya, membentuk perspektifnya dalam memahami persoalan masyarakat akar rumput.
Inspirasi judul film diakuinya terhubung dengan semangat perjuangan Soekarno melalui buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Rahmat menyebut buku tersebut kerap ia baca berulang kali sebagai pengingat bahwa politik seharusnya menjadi alat perjuangan, bukan sekadar kekuasaan.
“Politik itu seperti alat. Jika digunakan dengan niat baik, maka hasilnya akan berpihak pada masyarakat. Tetapi jika disalahgunakan, kebijakannya bisa menjauh dari kepentingan rakyat,” tegasnya.
Sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri dengan konstituen, film itu direncanakan diputar melalui kegiatan nonton bareng setelah Lebaran di sejumlah kecamatan daerah pemilihannya, yakni Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga. Kegiatan tersebut akan melibatkan tokoh masyarakat, komunitas pemuda, hingga warga pesisir.
Rahmat berharap pemutaran film ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang pembelajaran politik, terutama bagi generasi muda. “Kami ingin anak muda memahami bahwa setiap kebijakan yang lahir hari ini adalah hasil proses politik. Karena itu, penting untuk terlibat dan peduli,” pungkasnya.





