Trump Tak Khawatir Harga BBM Naik di Tengah Konflik dengan Iran

No comments

Kutip.id,Washington – CNN Indonesia Presiden Donald Trump menyatakan tidak terlalu khawatir terhadap lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat yang terjadi di tengah meningkatnya konflik militer dengan Iran. Menurutnya, operasi militer yang sedang berlangsung jauh lebih penting dibandingkan dampak sementara terhadap harga bensin.

Dalam wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan kenaikan harga bahan bakar diperkirakan hanya bersifat sementara dan akan kembali turun setelah situasi konflik mereda.

“Saya tidak khawatir. Setelah konflik selesai, harga akan turun lagi. Kalau pun naik sedikit sekarang, itu bukan masalah besar,” ujar Trump.

Berdasarkan data dari organisasi pemantau harga energi AAA, rata-rata harga bensin di AS saat ini mencapai sekitar US$3,25 per galon, naik sekitar 27 sen dibandingkan pekan sebelumnya. Angka tersebut juga sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Trump juga menegaskan pemerintahannya belum berencana menggunakan cadangan minyak darurat terbesar milik negara, yaitu Strategic Petroleum Reserve (SPR). Ia menilai jalur distribusi energi global masih dapat terjaga, termasuk melalui Selat Hormuz yang merupakan rute utama pengiriman minyak dunia.

Di sisi lain, sejumlah pejabat Gedung Putih mulai mengkaji berbagai langkah untuk menekan lonjakan harga energi. Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles dan Menteri Energi Chris Wright dilaporkan telah berdiskusi dengan para eksekutif perusahaan minyak mengenai kemungkinan solusi jangka pendek.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan pemerintah tengah menyiapkan beberapa opsi kebijakan, termasuk dukungan asuransi bagi kapal tanker minyak dan kemungkinan pengawalan militer AS di sekitar Selat Hormuz untuk menjaga jalur distribusi energi tetap aman.

Meski demikian, para analis menilai ruang gerak pemerintah AS untuk menekan harga energi relatif terbatas. Kenaikan harga bahan bakar yang berkepanjangan dikhawatirkan dapat memengaruhi sentimen publik menjelang pemilu paruh waktu di AS yang akan datang, terutama karena isu biaya hidup masih menjadi perhatian utama pemilih

Also Read

Bagikan: