Kutip.id,Samarinda – Kepulan asap tebal membumbung di langit Samarinda pada Rabu sore (2/4), saat kobaran api melahap sebagian bangunan SMPN 2 Samarinda. Dalam waktu kurang dari satu jam, delapan ruang kelas hangus terbakar.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda, Hendra AH, menjelaskan bahwa bangunan dua lantai yang terdiri dari sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan berat akibat insiden tersebut.
Kebakaran mulai terjadi sekitar pukul 15.20 WITA di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Sungai Pinang Luar. Api dengan cepat membesar, memaksa petugas bergerak cepat untuk mencegah kobaran merambat ke bagian lain sekolah.
Sebanyak tujuh unit mobil pemadam dikerahkan, didukung puluhan relawan yang membawa sekitar 20 mesin pompa portabel. Berkat kerja sama berbagai pihak, api berhasil dijinakkan dalam waktu sekitar 40 menit.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Saat kebakaran terjadi, aktivitas belajar mengajar sudah tidak berlangsung sehingga gedung dalam keadaan kosong.
“Seluruh area sekolah kosong, sehingga tidak ada korban,” ujar Hendra.
Proses pemadaman pun berjalan relatif lancar tanpa kendala berarti. Akses menuju lokasi tidak terhambat, memungkinkan petugas bergerak cepat mengendalikan situasi.
Dugaan sementara, kebakaran dipicu oleh korsleting listrik yang berasal dari lantai dua bangunan. Namun, penyebab pasti masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.
Penanganan di lapangan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Palang Merah Indonesia, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga tim medis relawan. Sementara itu, petugas dari Perusahaan Listrik Negara turut memutus aliran listrik guna mencegah risiko lanjutan.
Di sekitar lokasi, arus lalu lintas juga sempat diatur oleh aparat dari Dinas Perhubungan dan kepolisian untuk memastikan proses evakuasi dan pemadaman berjalan aman.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan terhadap instalasi listrik, terutama di bangunan publik seperti sekolah. Api memang telah padam, namun dampaknya masih menyisakan kerugian besar bagi dunia pendidikan di Samarinda.




