Kutip.id, Udara Kubu Raya dan Mempawah Masuk Level Berbahaya, PM2.5 Tembus 448 µg/m³Kubu Raya – Kualitas udara di Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, memburuk akibat kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan BMKG, kedua wilayah tersebut masuk kategori berbahaya pada Selasa (1/9/2026).
Dilansir dari CNN Indonesia, Data BMKG per pukul 10.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 di Kubu Raya mencapai 385,2 µg/m³. Sementara di Mempawah, angkanya lebih tinggi hingga 448,1 µg/m³.
Kedua angka tersebut sudah jauh melampaui ambang kategori berbahaya yang berada di atas 250,51 µg/m³.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil dengan diameter maksimal 2,5 mikrometer. Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan bahkan terserap ke dalam aliran darah, sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.
Asap karhutla menjadi salah satu sumber utama peningkatan konsentrasi PM2.5 di wilayah terdampak. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena jumlah titik panas di Kalimantan Barat juga mengalami peningkatan tajam.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah hotspot di Kalbar bertambah 3.533 titik pada Senin (31/8). Total hotspot mencapai 7.377 titik. Sementara firespot bertambah 16 titik menjadi 72 titik.
” Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan, maupun Kalimantan Tengah, relatif menurun,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers, Senin (31/8).
Dampak asap karhutla juga mulai terlihat pada kondisi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat 165.727 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang 1 Januari hingga 22 Agustus 2026.
Peningkatan kasus mulai terlihat sejak akhir Mei dan berlanjut hingga pertengahan Agustus. Kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan juga meningkat seiring bertambahnya hotspot.
“Terjadi peningkatan ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Artinya kunjungan masyarakat ke puskesmas lebih meningkat,” ujar Kepala Dinkes Kalbar Erna Yulianti, Sabtu (29/8).
Kondisi udara yang berada pada kategori berbahaya menunjukkan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga mulai memberikan tekanan terhadap kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.




