Kutip.id,Jakarta – Riset terbaru dari Katadata Insight Center menunjukkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia cenderung lebih memilih pinjaman daring (pinjol) dibanding meminjam dari bank. Keputusan ini terutama dipengaruhi oleh kecepatan pencairan dana dan kemudahan prosedur.
Senior Analyst Katadata Insight Center, Hanif Gusman, menjelaskan, meski pinjol kerap dipandang negatif karena stigma “mengajarkan berutang,” layanan ini sebenarnya memberi solusi bagi UMKM yang sulit mengakses kredit perbankan. “Banyak UMKM kesulitan memenuhi persyaratan dokumen atau tidak memiliki jaminan sehingga mereka memilih pinjol,” ujar Hanif dalam diskusi yang digelar Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Rabu (4/4).
Data riset menunjukan 41,6 persen responden mengaku enggan mengajukan kredit ke bank karena persyaratan dokumen sulit dipenuhi, sedangkan 32,9 persen tidak memiliki agunan. Sementara itu, sekitar 69,3 persen UMKM memanfaatkan pinjol karena pencairannya cepat, 66,3 persen menyukai prosedur yang simpel, dan 60,8 persen menilai aplikasi digitalnya mudah digunakan.
Tidak hanya untuk modal usaha, pinjol juga dianggap sebagai alat mitigasi ketidakpastian ekonomi. Sebanyak 64,7 persen responden merasa lebih siap menghadapi kondisi darurat setelah mengakses pinjol, dan 55,3 persen mengaku lebih aman memiliki akses modal saat dibutuhkan. Selain itu, 46,9 persen responden menyatakan manajemen keuangan usaha mereka lebih baik, dan 46,6 persen mengatakan pinjaman pinjol membantu menambah stok barang dari pemasok.
Hanif menilai pinjol memiliki potensi strategis bagi perekonomian nasional. Layanan digital ini dapat menjadi mitra penyaluran dana pemerintah melalui mekanisme innovative credit scoring (ICS), tanpa perlu agunan seperti di bank konvensional. Selain itu, akses digital memungkinkan pinjol menjangkau daerah yang masih kesulitan mengakses layanan keuangan fisik; riset Katadata mencatat 18,9 persen penduduk menghadapi hambatan tersebut, dengan kesenjangan inklusi keuangan antara perkotaan (83,6 persen) dan pedesaan (75,7 persen).
Di Pulau Jawa, jumlah pengguna pinjol naik 37,6 persen menjadi 4,63 juta akun, sementara volume penyaluran pembiayaan meningkat 23,9 persen dari Rp6,81 triliun menjadi Rp8,44 triliun. Hanif menekankan, modal bisnis berbasis digital tanpa kantor fisik menjadi kunci untuk memperluas distribusi kredit dan mendukung pertumbuhan UMKM secara merata.





