Syukur Panen dan Pelestarian Budaya, Lom Plai Sambut Libur Lebaran di Kutai Timur

No comments

Kutip.id,Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kembali menegaskan komitmennya melestarikan tradisi lokal melalui perayaan adat Lom Plai 2026 di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur. Tradisi tahunan masyarakat Dayak Wehea ini tidak hanya menjadi ajang syukur atas hasil panen, tetapi juga wujud pelestarian identitas budaya di tengah modernisasi.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, menjelaskan rangkaian acara dimulai sejak Maret dengan prosesi sakral Ngesea Egung (pemukulan gong) sebagai tanda dimulainya ritual. Warga kemudian melaksanakan Laq Pesyai, mengambil buah hutan dan rotan untuk persiapan upacara, diikuti ritual Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min untuk simbolisasi penentuan batas wilayah kampung.

Keunikan budaya Wehea juga terlihat dalam ritual Ngelwung Pan, di mana perempuan adat melakukan ritual spiritual secara tertutup di bawah rumah keturunan Hepui. Menjelang puncak perayaan, warga membangun pondok darurat di tepi sungai melalui tradisi Naq Jengea.

Puncak acara Bob Jengea di bulan April menghadirkan pawai budaya, tari Hudoq, serta atraksi perang-perangan di sungai (Seksiang). Perayaan ditutup dengan ritual Embos Epaq Plai pada 29 April, bertujuan membersihkan kampung dan memohon keberkahan untuk musim tanam mendatang.

“Kolaborasi antara pemangku adat dan pemerintah penting untuk menjaga kelestarian tradisi ini sebagai warisan intelektual bangsa,” kata Ririn. Perayaan Lom Plai 2026 juga menjadi salah satu atraksi budaya unggulan yang masuk dalam kalender Karisma Even Nusantara (KEN) 2026, sekaligus mendorong wisata budaya di Kaltim.

Also Read

Bagikan: