Kutip.id,Balikpapan – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali melangkah maju dalam pengembangan Lapangan Migas Manpatu. Kali ini, perusahaan mengirimkan modul utama anjungan lepas pantai atau topside dari fasilitas fabrikasi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, menuju perairan Selat Makassar, Kalimantan Timur.
Perjalanan laut sejauh kurang lebih 1.930 kilometer ini menjadi fase krusial dalam proyek yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027. Pengiriman topside menyusul keberhasilan pengapalan struktur penopang (jacket) yang telah lebih dulu dilakukan pada 8 April 2026.
Dengan bobot sekitar 1.000 ton, struktur topside diangkut menggunakan kapal tongkang khusus. Nantinya, bagian ini akan berfungsi sebagai “otak” anjungan, menampung fasilitas pengeboran, pengolahan migas, sistem kontrol, utilitas, hingga area akomodasi pekerja.
Proses pemindahan (load out) hingga pelayaran (sail away) topside bukan pekerjaan sederhana. Tahapan ini tergolong berisiko tinggi dan menuntut presisi teknis, koordinasi lintas tim, serta penerapan standar keselamatan yang ketat.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menegaskan bahwa keberhasilan fabrikasi topside merupakan buah kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, mitra kerja, dan kontraktor Engineering, Procurement, Supply Construction and Commissioning (EPSCC). Ia menyebut proyek Manpatu sebagai bagian penting dalam menjaga kesinambungan produksi migas nasional.
“Proyek ini adalah investasi strategis, tidak hanya untuk meningkatkan cadangan, tetapi juga mengoptimalkan potensi lapangan yang telah lama berproduksi,” ujarnya.
Manpatu sendiri termasuk proyek fast track yang bermula dari penemuan gas dan kondensat pada sumur eksplorasi Manpatu-1X pada 2022. Setelah melalui tahap desain awal (FEED) pada 2023–2024, proyek ini memasuki fase konstruksi sejak 2025.
Secara keseluruhan, pengembangan Manpatu mencakup pembangunan satu anjungan baru, modifikasi fasilitas yang sudah ada, pemasangan pipa bawah laut sepanjang 2,5 kilometer dengan diameter 14 inci, serta pekerjaan subsea berteknologi tinggi. Proyek ini juga akan melibatkan pengeboran 11 sumur pengembangan.
Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Sunaryanto, menilai proyek ini sebagai wujud komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi nasional, khususnya dari wilayah Kalimantan. Ia menekankan bahwa Manpatu bukan sekadar proyek peningkatan produksi, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia secara berkelanjutan.
Selain itu, ia mengungkapkan capaian lebih dari dua juta jam kerja tanpa kecelakaan hingga Maret 2026 sebagai indikator kuatnya penerapan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSSE) dalam proyek tersebut.
Sebagai operator Wilayah Kerja Mahakam, PHM terus mengedepankan inovasi dan teknologi dalam operasionalnya. Langkah ini diharapkan mampu menghadirkan produksi migas yang aman, efisien, andal, sekaligus ramah lingkungan demi mendukung keberlanjutan energi nasional.




