Impor Plastik Indonesia Meningkat di Awal 2026, Industri Tetap Jaga Pasokan Meski Harga Global Naik

No comments

Kutip.id, Kebutuhan bahan baku industri dalam negeri mendorong peningkatan impor plastik sepanjang empat bulan pertama 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume impor plastik dan produk turunannya mengalami kenaikan signifikan meskipun pasar global tengah menghadapi tekanan harga akibat ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan catatan BPS, impor plastik dan barang dari plastik selama Januari hingga April 2026 mencapai 2,34 juta ton, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari sisi nilai, impor komoditas tersebut juga mengalami pertumbuhan yang mencerminkan masih tingginya permintaan sektor manufaktur nasional terhadap bahan baku plastik.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa peningkatan impor terjadi seiring naiknya kebutuhan industri pengolahan yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.

Selain plastik, impor mesin dan perlengkapan elektrik juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Nilai impor kelompok barang tersebut meningkat hampir 19 persen, sementara volumenya melonjak lebih dari 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas produksi dan investasi di berbagai sektor industri.

Secara keseluruhan, kinerja impor Indonesia pada Januari-April 2026 tumbuh lebih dari 13 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh impor bahan baku dan barang penolong yang menjadi kebutuhan utama industri dalam negeri.

Pada April 2026 saja, nilai impor nasional mencapai lebih dari US$25 miliar atau meningkat tajam dibandingkan April tahun lalu. Kenaikan terbesar berasal dari sektor migas, namun impor nonmigas juga tetap mencatat pertumbuhan positif.

Pengamat ekonomi menilai tren ini menunjukkan aktivitas industri nasional masih berada dalam fase ekspansi. Namun, tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, termasuk plastik, menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui penguatan industri petrokimia domestik dan pengembangan bahan baku alternatif yang lebih berkelanjutan.

Di sisi lain, meningkatnya impor plastik juga menjadi pengingat pentingnya percepatan program daur ulang dan ekonomi sirkular guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus mendukung target pembangunan ramah lingkungan.

Pemerintah diharapkan terus mendorong investasi sektor hilirisasi dan industri petrokimia agar kebutuhan bahan baku nasional dapat dipenuhi secara lebih mandiri di masa mendatang.

Also Read

Bagikan: