Rupiah Kembali Tertekan, Sentuh Rp17.827 per Dolar AS di Awal Perdagangan

No comments

Kutip.id, Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (27/5) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.827 per dolar AS atau turun sekitar 0,18 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang masih mencermati kondisi ekonomi domestik serta arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Berbeda dengan rupiah, sejumlah mata uang Asia justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Yuan China, ringgit Malaysia, dolar Singapura, hingga yen Jepang tercatat bergerak positif pada perdagangan pagi ini.

Di pasar global, mata uang utama dunia seperti euro dan poundsterling Inggris juga mengalami kenaikan tipis terhadap dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen dalam negeri dibanding faktor eksternal.

Analis mata uang menilai investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting Indonesia yang akan dirilis dalam waktu dekat, mulai dari inflasi, perdagangan, hingga aktivitas manufaktur nasional.

Selain itu, kebijakan Bank Indonesia yang sebelumnya menaikkan suku bunga dinilai belum sepenuhnya mampu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap aset domestik.

“Pasar masih melihat adanya ketidakpastian dari sisi ekonomi domestik dan arah kebijakan selanjutnya,” ujar seorang analis pasar keuangan.

Pelaku pasar juga menyoroti sejumlah kebijakan ekonomi pemerintah, termasuk rencana penguatan ekspor melalui BUMN strategis, yang dinilai masih membutuhkan kepastian implementasi dan transparansi agar dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Meski rupiah melemah, analis memperkirakan pergerakan mata uang Indonesia masih berada dalam rentang yang terkendali sepanjang perdagangan hari ini.

Bank Indonesia sebelumnya memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar dan kebijakan moneter yang terukur guna menjaga kepercayaan investor dan kestabilan ekonomi nasional.

Also Read

Bagikan: