Israel Gencarkan Serangan di Lebanon Selatan, Klaim Hantam Infrastruktur Hizbullah

No comments
Foto: (Mahmoud ZAYYAT/AFP)

Kutip.id – Ketegangan di kawasan perbatasan kembali meningkat setelah militer Israel melancarkan serangan udara intensif di Lebanon selatan pada Rabu (19/11/2025).

Serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang dan terjadi hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir. Israel menyebut operasi itu sebagai langkah pencegahan agar Hizbullah tidak kembali memperkuat posisi militernya di wilayah perbatasan.

Hizbullah sebelumnya menyatakan telah mematuhi kesepakatan gencatan senjata, termasuk menarik keberadaan militernya dari area perbatasan dekat Israel dan memberi ruang bagi tentara Lebanon untuk mengambil alih pengamanan wilayah tersebut.

Menurut laporan CNA, warga di sejumlah desa bergegas mengungsi setelah Israel mengeluarkan peringatan melalui media sosial. Pesan itu mencantumkan bangunan-bangunan yang akan diserang di empat desa Deir Kifa, Chehour, Aainata, dan Tayr Filsay yang oleh Israel diklaim sebagai lokasi infrastruktur militer Hizbullah. Serangan itu memicu kepulan asap tebal yang membumbung dari area pemukiman.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut satu warga tewas dalam serangan di Desa Al-Tiri. Israel mengklaim korban tersebut merupakan anggota Hizbullah yang terlibat dalam upaya memulihkan kesiapsiagaan kelompok itu di perbatasan.

Sehari sebelumnya, pada Selasa (18/11), Israel melancarkan salah satu serangan paling mematikan sejak konflik tahun lalu dengan Hizbullah. Serangan tersebut menewaskan 13 orang di kamp pengungsi Palestina dekat Kota Sidon. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi jumlah korban itu.

Militer Israel mengatakan mereka menargetkan kompleks di kamp Ain al-Hilweh yang disebut digunakan Hamas untuk merencanakan serangan. Namun Hamas membantah keras tuduhan tersebut, menyatakan tidak ada fasilitas militer di kamp pengungsi. Seorang pejabat Hamas kepada Reuters menegaskan bahwa tidak ada anggotanya yang menjadi korban dalam serangan itu.

Sementara itu, gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat dan Prancis mewajibkan angkatan bersenjata Lebanon untuk menyita seluruh senjata ilegal, dimulai dari wilayah selatan Sungai Litani daerah yang berbatasan langsung dengan Israel.

Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa ketentuan tersebut hanya berlaku bagi wilayah selatan Sungai Litani, bukan seluruh wilayah Lebanon. Pemerintah Lebanon juga menuduh Israel melanggar kesepakatan karena masih mempertahankan posisi militer di wilayah selatan negara itu.

(Ysa)

Also Read

Bagikan: