Kutip.id – Pemerintah Venezuela kembali melontarkan tudingan keras terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel terkait operasi militer yang berujung pada penangkapan mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menyebut operasi pasukan khusus AS yang menculik Maduro tidak hanya melibatkan militer Amerika, tetapi juga didukung oleh unsur Zionis Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Rodríguez dalam pidato nasional yang disiarkan ke seluruh penjuru Venezuela. Ia menyoroti operasi pasukan elite Delta Force AS yang disebutnya sebagai aksi penculikan terhadap Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Operasi tersebut, menurut Rodríguez, juga disertai serangan udara terhadap sejumlah instalasi dan pangkalan militer strategis Venezuela pada Sabtu dini hari.
“Pemerintah dan masyarakat dunia terkejut karena Republik Bolivarian Venezuela telah menjadi sasaran agresi bersenjata semacam ini, yang jelas-jelas memiliki nuansa Zionis,” ujar Rodríguez. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan bagian dari agenda politik dan ideologis yang lebih luas.
“Serangan terhadap Venezuela adalah tindakan Zionis,” lanjutnya, sebagaimana dikutip media internasional i24News, Senin (5/1/2026).
Rodríguez juga melontarkan peringatan keras kepada pihak-pihak yang diduga berada di balik operasi tersebut. Ia menyebut bahwa para aktor yang mendorong agresi bersenjata terhadap Venezuela suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban.
“Para ekstremis yang mempromosikan agresi terhadap negara kami akan dihadapkan pada sejarah dan keadilan. Mereka pasti akan membayar,” tegasnya.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah pasukan khusus AS dilaporkan menahan Maduro di Caracas. Pada waktu yang hampir bersamaan, jet tempur Amerika dikabarkan melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer utama Venezuela. Operasi ini memicu kejut politik besar, baik di dalam negeri Venezuela maupun di tingkat internasional.
Delcy Rodríguez sendiri dikenal sebagai sekutu dekat Maduro. Sebelum ditunjuk sebagai presiden sementara, ia menjabat sebagai wakil presiden dan kemudian dipercaya memimpin negara berdasarkan putusan Mahkamah Agung Venezuela pasca penangkapan Maduro.
Narasi yang disampaikan Rodríguez sejatinya sejalan dengan pernyataan-pernyataan Maduro dalam beberapa bulan terakhir. Pada November lalu, Maduro sempat menuding adanya kekuatan asing yang ingin “menyerahkan Venezuela kepada musuh”. Dalam pidatonya kala itu, ia menyebut Zionis sayap kanan sebagai pihak yang berambisi menguasai negaranya.
Di sisi lain, Israel justru menjadi salah satu negara yang secara terbuka menyambut operasi AS tersebut. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, melalui platform X, menyampaikan pujian terhadap langkah Washington.
“Israel memuji operasi Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Donald Trump, yang bertindak sebagai pemimpin dunia bebas,” tulis Sa’ar. Ia juga menyatakan Israel berdiri bersama rakyat Venezuela yang disebutnya telah lama menderita di bawah pemerintahan Maduro.
Namun, operasi AS ini menuai kecaman luas di kawasan Amerika Selatan. Sejumlah negara seperti Brasil, Kolombia, dan Chile mengecam keras tindakan tersebut. Reaksi serupa datang dari sekutu utama Venezuela, termasuk Rusia, China, dan Iran, yang menilai operasi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.
Kritik juga menguat di dalam negeri Amerika Serikat. Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat menyebut serangan tersebut ilegal dan berpotensi memicu instabilitas kawasan. Perdebatan pun semakin tajam terkait dampak geopolitik dan legitimasi tindakan Washington terhadap Venezuela.





