Kutip.id, Wahana antariksa New Horizons milik NASA kembali beroperasi setelah menyelesaikan masa hibernasi yang berlangsung hampir satu tahun. Dari posisinya yang kini berjarak sekitar 9,5 miliar kilometer dari Bumi, wahana tersebut siap mengirimkan data ilmiah terbaru mengenai wilayah terluar Tata Surya.
Selama berada dalam mode hibernasi, sebagian besar sistem New Horizons sengaja dinonaktifkan untuk menghemat energi. Meski demikian, instrumen ilmiahnya tetap bekerja mengumpulkan berbagai informasi dari lingkungan antariksa yang dilaluinya.
NASA menyatakan seluruh sistem wahana tetap berada dalam kondisi normal selama periode hibernasi yang dimulai pada Agustus tahun lalu. Kini, setelah kembali aktif, New Horizons mulai mengirimkan laporan kondisi pesawat beserta hasil pengamatan yang dikumpulkan selama lebih dari 320 hari.
Karena jaraknya yang sangat jauh, komunikasi antara Bumi dan New Horizons membutuhkan waktu sekitar sembilan jam untuk satu kali transmisi sinyal radio.
New Horizons dikenal sebagai wahana pertama yang berhasil melakukan penerbangan dekat Pluto pada 2015. Misi tersebut memberikan gambaran paling detail mengenai planet kerdil itu sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sabuk Kuiper, kawasan yang dipenuhi objek-objek es di bagian luar Tata Surya.
Pada 2019, New Horizons kembali mencatat sejarah dengan mengamati Arrokoth, objek purba yang berada jauh di luar orbit Pluto. Sejak saat itu, wahana ini terus melakukan penelitian terhadap lingkungan antariksa di wilayah paling luar yang masih dipengaruhi angin Matahari atau heliosfer.
Saat ini, New Horizons melaju dengan kecepatan sekitar 483 juta kilometer per tahun, membawa instrumen ilmiah yang dirancang untuk mempelajari kondisi ruang antarbintang dan batas heliosfer.
Dalam beberapa pekan ke depan, wahana tersebut dijadwalkan memulai pengamatan terhadap distribusi hidrogen di heliosfer luar. Informasi yang diperoleh diharapkan dapat membantu ilmuwan memahami karakteristik wilayah transisi antara pengaruh Matahari dan ruang antarbintang, termasuk fenomena yang dikenal sebagai termination shock.
Penelitian ini dinilai sangat penting karena sebelumnya hanya wahana Voyager 1 dan Voyager 2 yang pernah melintasi kawasan tersebut. Namun, New Horizons membawa instrumen yang lebih modern sehingga mampu menghasilkan pengukuran dengan tingkat sensitivitas yang lebih tinggi.
Data yang dikirimkan New Horizons diperkirakan akan memberikan gambaran baru mengenai kondisi di tepi Tata Surya sekaligus memperluas pemahaman ilmuwan tentang lingkungan antariksa yang masih jarang dieksplorasi manusia.




