Selamatkan Pesisir Kaltim, Unmul Luncurkan “Sekolah Lapang” untuk Petambak Tahan Iklim

No comments

Kutip.id,Samarinda – Ancaman perubahan iklim yang kian nyata di wilayah pesisir mendorong lahirnya inovasi baru dari kalangan akademisi. Pakar lingkungan dari Universitas Mulawarman, Esti Handayani Hardim, menggagas program “Sekolah Lapang” untuk membantu petambak menghadapi krisis ekosistem yang terus membayangi.

Program ini difokuskan di kawasan Delta Mahakam, wilayah yang selama ini dikenal sebagai sentra tambak, namun kini mengalami penurunan produktivitas cukup tajam. Berdasarkan penelitian, tambak tradisional di kawasan ini hanya mampu bertahan optimal sekitar 13 tahun sebelum kualitas lingkungannya menurun drastis.

Menurut Esti, penurunan ini dipicu berbagai faktor, mulai dari perubahan suhu ekstrem, rendahnya kadar oksigen, hingga meningkatnya pencemaran air yang berdampak langsung pada hasil panen petambak.

Melalui Sekolah Lapang, para petambak tidak hanya diberikan teori, tetapi juga pendampingan langsung untuk menerapkan metode budidaya yang lebih ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Salah satu pendekatan utama yang diperkenalkan adalah sistem silvofishery, yakni menggabungkan budidaya perikanan dengan penanaman mangrove di sekitar tambak. Metode ini dinilai efektif karena akar mangrove mampu menjadi penyaring alami polutan sekaligus memperbaiki kualitas air.

Tak hanya menjaga lingkungan, sistem ini juga berdampak pada kualitas hasil panen. Udang dan kepiting yang dibudidayakan dalam ekosistem ini terbukti memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi, sehingga bernilai lebih di pasar.

Selain itu, petambak juga didorong menerapkan sistem polikultur—menggabungkan berbagai komoditas seperti bandeng, rumput laut, udang, dan kepiting dalam satu tambak. Konsep ini menciptakan siklus alami di mana limbah satu komoditas menjadi nutrisi bagi yang lain, sehingga mengurangi ketergantungan pada pakan dan bahan kimia.

Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan pesisir tanpa merusak hutan mangrove.

Langkah ini menjadi penting, terutama untuk menjaga daya saing produk perikanan Kalimantan Timur di pasar global yang kini semakin ketat terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.

Also Read

Bagikan: