Pelestarian Tarsul Kutai Hadapi Tantangan Regenerasi dan Modernisasi

No comments

Kutip.id, Samarinda – Upaya menjaga kelestarian seni tradisional Tarsul dari budaya Kutai kini memasuki tahap perlindungan budaya, menyusul penetapannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2025. Namun, pengembangan kesenian tersebut dinilai masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menarik minat generasi muda.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur dan Utara, Titit Lestari, mengatakan pelestarian Tarsul sejauh ini masih fokus pada dokumentasi dan perlindungan status budaya, sementara inovasi dan pengembangan belum berjalan optimal.

Tarsul merupakan tradisi lisan masyarakat Kutai yang disampaikan melalui syair atau nyanyian berbalas. Kesenian ini biasanya hadir dalam prosesi khatam Al-Quran dan upacara pernikahan adat.

Menurut Titit, keterbatasan ruang pertunjukan membuat Tarsul kurang dikenal luas oleh masyarakat modern. Pertunjukan yang umumnya hanya digelar dalam acara adat tertentu dinilai menjadi salah satu penyebab minimnya eksposur budaya tersebut di ruang publik.

Selain itu, perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup turut mempengaruhi minat generasi muda terhadap seni tradisional. Banyak anak muda lebih tertarik pada budaya populer dibanding mendalami kesenian daerah yang dianggap klasik.

“Budaya harus mampu beradaptasi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya,” ujarnya.

Balai Pelestarian Kebudayaan pun mendorong terciptanya kolaborasi antara seniman tradisional dan kreator muda digital untuk membuka peluang inovasi baru dalam pengenalan Tarsul. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjadikan Tarsul lebih dekat dengan generasi muda melalui media sosial, pertunjukan kreatif, maupun karya audiovisual.

Di sisi lain, seniman Tarsul asal Kutai, Saipul Anwar, memilih mempertahankan bentuk asli kesenian tersebut. Ia menilai pakem Tarsul perlu dijaga agar tidak kehilangan nilai budaya dan filosofi yang diwariskan leluhur.

Meski demikian, Saipul tidak menolak adanya inovasi dari kalangan muda selama tetap menghormati esensi utama Tarsul sebagai warisan budaya masyarakat Kutai.

Pelestarian Tarsul kini dipandang bukan hanya soal menjaga tradisi lama, tetapi juga mencari cara agar seni lisan tersebut tetap relevan dan hidup di tengah masyarakat modern Kalimantan Timur.

Also Read

Bagikan: