Kutip.id,Jakarta – Dampak kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur memicu wacana baru soal keselamatan penumpang, khususnya perempuan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan perubahan posisi gerbong khusus wanita dalam rangkaian KRL.
Di lansir dari CNN Indonesia Menurut Arifah, gerbong wanita yang selama ini berada di bagian depan dan belakang dinilai lebih berisiko dalam kondisi tertentu, seperti saat terjadi tabrakan. Ia mengusulkan agar gerbong tersebut dipindahkan ke bagian tengah rangkaian, sementara gerbong di ujung diisi oleh penumpang laki-laki.
Usulan ini, kata Arifah, muncul setelah melihat tingginya jumlah korban perempuan dalam kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL beberapa hari lalu. Ia pun mengaku telah menyampaikan gagasan tersebut kepada PT Kereta Api Indonesia untuk dikaji lebih lanjut.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai wacana tersebut bisa menjadi bagian dari evaluasi. Ia mengakui bahwa gerbong di bagian belakang memang menerima dampak paling besar dalam insiden tersebut.
Meski begitu, AHY menekankan bahwa fokus utama pemerintah bukan sekadar penempatan gerbong berdasarkan gender, melainkan peningkatan sistem keselamatan secara menyeluruh.
“Laki-laki dan perempuan sama-sama harus terlindungi. Yang terpenting adalah memastikan sistem transportasi publik benar-benar aman,” ujarnya.
Kecelakaan di Bekasi Timur sendiri menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa ini bermula dari gangguan di perlintasan sebidang yang berujung pada tabrakan beruntun antar kereta.
Kini, selain pemulihan operasional, perhatian juga tertuju pada pembenahan sistem termasuk kemungkinan perubahan tata letak gerbong agar risiko serupa bisa diminimalkan di masa depan.




