Berau Gandeng Tiga Negara Atasi Sampah Plastik di Kawasan Pulau Kecil

No comments

Kutip.id, Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, memperkuat kerja sama lintas negara untuk menangani persoalan sampah plastik yang mengancam ekosistem laut dan pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan Asia Tenggara.

Kolaborasi tersebut melibatkan Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand melalui program Plastic Smart Islands yang digagas World Wide Fund for Nature. Program ini difokuskan pada pengurangan pencemaran plastik di wilayah pesisir sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan persoalan sampah di daerah kepulauan kini menjadi tantangan serius yang membutuhkan kerja sama antarnegara. Menurutnya, wilayah laut yang saling terhubung membuat pencemaran plastik tidak bisa ditangani secara parsial.

“Penanganan sampah plastik harus dilakukan bersama karena dampaknya langsung mempengaruhi ekosistem laut dan kehidupan masyarakat pesisir,” ujarnya di Tanjung Redeb.

Program Plastic Smart Islands mengedepankan konsep pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R, yakni mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali, dan mendaur ulang. Pendekatan ini dinilai penting untuk menekan jumlah sampah yang berakhir di laut.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), produksi sampah di Berau mencapai sekitar 54 ribu ton per tahun. Sebagian besar telah dikelola, namun masih ada lebih dari 30 persen sampah yang belum tertangani secara optimal.

Pemerintah daerah juga mengingatkan bahwa kapasitas tempat pemrosesan akhir sampah diperkirakan mulai mengalami tekanan dalam beberapa tahun mendatang apabila tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang lebih modern dan berkelanjutan.

Sebagai solusi, Berau mulai mendorong pengembangan TPS 3R di kawasan pesisir dan Kepulauan Derawan. Melalui sistem ini, sampah dipilah sejak dari sumbernya sebelum diolah sesuai jenisnya. Sampah organik dimanfaatkan menjadi kompos dan pakan maggot, sementara sampah anorganik diproses untuk didaur ulang.

Selain menjaga lingkungan, pendekatan tersebut juga diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir melalui industri daur ulang dan pengolahan sampah berbasis komunitas.

Kerja sama empat negara ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut di kawasan Asia Tenggara, terutama di wilayah pulau kecil yang rentan terdampak pencemaran plastik lintas batas.

Also Read

Bagikan: