Kutip.id, Pemerintah menargetkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Giga Watt-peak (GWp) untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan program tersebut berpotensi menghasilkan penghematan APBN lebih dari Rp73 triliun setiap tahun.
Menurut Bahlil, potensi penghematan berasal dari biaya pembangkitan PLTS yang dinilai lebih rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar diesel maupun gas.
Selain mengurangi biaya energi, pengembangan PLTS 100 GWp diperkirakan dapat menekan konsumsi bahan bakar diesel hingga 6 juta kiloliter per tahun secara nasional. Khusus Bali, penghematannya diproyeksikan mencapai sekitar 500 ribu kiloliter per tahun.
“Proyek PLTS 100 GWp berpotensi menciptakan 5,52 juta lapangan kerja akumulatif (3,5 juta di industri panel surya & BESS, serta 2 juta di sektor konstruksi) dan mampu mengurangi emisi karbon sebesar 140,16 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon mencapai Rp6,31 triliun,” kata Bahlil dalam keterangan resmi, Selasa (25/8).
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan target pembangunan PLTS 100 GWp harus dikejar dalam waktu tiga tahun. Pemerintah pusat, BUMN, dan kementerian terkait diminta memperkuat koordinasi untuk merealisasikan program tersebut.
“Kita akan membangun 100 gigawatt dan kita tidak main-main, target kita adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun,” ujar Prabowo.
Program tersebut diarahkan menjadi salah satu bagian dari transformasi energi nasional. Pemerintah tidak hanya mengejar tambahan kapasitas pembangkit, tetapi juga mendorong pengembangan industri energi surya di dalam negeri dan memperluas akses listrik.
Peluncuran program PLTS 100 GWp ditandai dengan groundbreaking di Gilimanuk, Bali, pada Selasa (25/8). Pada tahap awal, pemerintah memulai 14 proyek PLTS yang tersebar di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp.
Sejumlah proyek yang masuk tahap awal antara lain PLTS Gilimanuk berkapasitas 300 MWp, PLTS Terapung Gajah Mungkur 134 MWp, PLTS Desa Sembur 0,92 MWp, serta PLTS Pulau Rengit dengan kapasitas 0,078 MWp.
Pemerintah berharap pembangunan pembangkit energi surya tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai industri energi terbarukan.




