Kutip.id, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat, menjadi salah satu habitat penting bagi macan tutul Jawa (Panthera pardus melas). Survei terbaru menemukan sedikitnya 51 individu yang masih hidup di kawasan konservasi tersebut.
Data itu diperoleh melalui Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang berlangsung sejak Januari 2024 hingga Juni 2026. Dari total populasi yang teridentifikasi, tiga ekor di antaranya merupakan anakan.
Survei dilakukan menggunakan 240 kamera pengintai yang ditempatkan pada 120 petak pengamatan. Dari 119 stasiun kamera yang datanya dapat dianalisis, sebanyak 113 stasiun berhasil merekam keberadaan macan tutul Jawa.
Berdasarkan hasil identifikasi, terdapat 23 macan tutul jantan dan 24 betina. Sementara empat individu lainnya belum diketahui jenis kelaminnya.
Kamera pengintai juga merekam keberadaan berbagai satwa lain yang hidup di kawasan tersebut. Di antaranya trenggiling, lutung Jawa, surili Jawa, elang Jawa, kucing kuwuk, dan landak Jawa.
Hasil pemantauan menunjukkan macan tutul Jawa lebih sering ditemukan pada kawasan yang kondisi hutannya masih relatif terjaga. Temuan ini memperkuat pentingnya kualitas habitat bagi keberlangsungan predator endemik Pulau Jawa tersebut.
Konservasi Tidak Cukup dengan Menjaga Hutan Tetap Hijau
Keberadaan 51 macan tutul menjadi salah satu indikator bahwa ekosistem Gunung Halimun Salak masih mampu mendukung kehidupan satwa liar. Namun, jumlah populasi saja belum cukup untuk memastikan keberlangsungan spesies tersebut.
Direktur Yayasan SINTAS Indonesia Hariyo T. Wibisono mengatakan keberhasilan konservasi perlu dilihat dari kemampuan populasi bertahan dalam jangka panjang.
“Yang lebih penting adalah apakah populasi ini dapat bertahan dalam jangka panjang,” kata Hariyo.
Menurutnya, kondisi habitat, ketersediaan satwa mangsa, keterhubungan antarwilayah hutan, serta tekanan terhadap kawasan menjadi faktor penting dalam menjaga populasi macan tutul Jawa.
Gunung Halimun Salak menghadapi berbagai aktivitas manusia. Sejumlah tekanan terhadap habitat masih ditemukan, termasuk perburuan, pembalakan, perambahan kawasan, dan aktivitas kendaraan.
Kawasan tersebut juga memiliki aktivitas pemanfaatan energi. Star Energy Geothermal Salak mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas 403,2 megawatt (MW).
Kondisi tersebut membuat pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan pemantauan dan koordinasi agar fungsi ekologis hutan tetap terjaga.
Jaga Koridor Habitat Macan Tutul
Selain menjaga kawasan hutan, konektivitas antarhabitat menjadi bagian penting dalam konservasi macan tutul Jawa. Satwa membutuhkan ruang untuk mencari makan, berkembang biak, berlindung, dan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
Di kawasan Halimun-Salak, upaya menjaga keterhubungan habitat dilakukan melalui pemulihan kawasan dan pengembangan koridor hijau yang menghubungkan Gunung Salak dan Gunung Halimun.
Pemantauan menggunakan camera trap juga terus dilakukan. Pengamanan kawasan diperkuat bersama polisi hutan dan melibatkan sejumlah pihak yang berkepentingan terhadap kelestarian lingkungan.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Didid Sulastiyo menegaskan perlindungan macan tutul membutuhkan upaya jangka panjang.
“Tugas kami bukan sekadar memastikan macan tutul Jawa masih ditemukan hari ini. Yang harus kami jaga adalah agar Taman Nasional Gunung Halimun Salak tetap menjadi rumah yang layak bagi mereka puluhan tahun ke depan,” ujar Didid.
Hasil survei JWLS selanjutnya akan dianalisis melalui Population Viability Analysis (PVA). Analisis tersebut bertujuan melihat peluang keberlangsungan populasi macan tutul Jawa pada masa mendatang.
Data tersebut juga akan menjadi bahan dalam pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa.
Bagi pengunjung, macan tutul mungkin menjadi satwa yang tidak terlihat ketika menjelajahi kawasan Gunung Halimun Salak. Namun, hasil pemantauan kamera menunjukkan satwa tersebut tetap aktif menjalankan perannya dalam ekosistem hutan.
Keberadaan 51 individu, termasuk tiga anakan, menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki fungsi penting sebagai habitat macan tutul Jawa. Tantangan berikutnya adalah memastikan hutan, mangsa, dan jalur pergerakannya tetap tersedia dalam jangka panjang.




