Kutip.id, Aceh Utara – Upaya pencarian korban banjir besar yang melanda Aceh Utara terus dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Lhokseumawe dan PMI Kabupaten Aceh Utara. Banjir yang telah terjadi selama beberapa hari terakhir ini bukan hanya menyebabkan kerusakan material, tetapi juga menimbulkan korban jiwa.
Di tengah operasi kemanusiaan tersebut, PMI Aceh Utara juga mendirikan posko bantuan di Desa Riseh Tengoh, Kecamatan Sawang, sebagai pusat koordinasi dan pelayanan bagi warga terdampak.
Ketua PMI Aceh Utara, Thantawi, mengatakan bahwa tim kini memusatkan tugas pada pencarian korban yang meninggal dunia. Surutnya banjir dinilai membantu tim dalam memperluas penyisiran.
“Jika sebelumnya kami fokus pada evakuasi dan distribusi bantuan bersama tim pemerintah, kini operasi mulai beralih pada pengobatan serta pencarian korban meninggal,” ungkapnya.
Sementara itu, PMI Kota Lhokseumawe yang melakukan penyisiran di sekitar Bandara Sultan Malikussaleh berhasil menemukan lima jenazah di area yang masih tergenang.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Lhokseumawe, Muhammad Azman, menyebutkan bahwa para korban diduga terseret arus saat berusaha menyelamatkan diri.
“Lima jenazah berhasil dievakuasi dari lokasi banjir. Mereka diduga tewas terseret arus deras ketika mencoba menyelamatkan diri,” jelas Azman.
Hasil penelusuran tim menunjukkan bahwa beberapa korban terjebak banjir saat menggunakan kendaraan pribadi. Arus yang semakin kuat menyebabkan kendaraan terbawa ke area persawahan yang posisinya lebih rendah dari jalan raya.
“Ketika arus menguat, kendaraan justru terseret ke areal persawahan yang lebih rendah,” tambahnya.
Proses evakuasi dilakukan melalui kerja sama berbagai unsur, termasuk PMI, Kopasgat, masyarakat setempat, dan pengelola Bandara Malikussaleh. Bandara dijadikan titik evakuasi utama mengingat lokasinya yang lebih aman dan berada di dataran tinggi.
“Jenazah kami bawa ke Bandara Malikussaleh untuk identifikasi dan pemulasaraan. Fasilitas air bersih di bandara sangat membantu karena infrastruktur desa masih lumpuh,” jelas Azman.
PMI Aceh Utara dan PMI Lhokseumawe bersama instansi terkait masih terus memantau kondisi lapangan. Tim siaga tetap disiapkan untuk membantu warga yang masih membutuhkan dukungan.
Banjir yang telah berlangsung selama tiga hari itu mengisolasi sejumlah desa dan menyebabkan banyak akses terputus. Hingga laporan ini diterbitkan, proses evakuasi dan asesmen kerusakan masih berjalan di beberapa wilayah terdampak.
Sumber: Kompas.com





