Kutip.id, Jakarta – Pemerintah mulai mengkaji ulang cara mengajarkan matematika di tingkat dasar. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menilai soal-soal matematika untuk anak usia dini di Indonesia masih terlalu rumit dan kurang memperhatikan perkembangan logika anak.
Dalam peluncuran program penguatan literasi dan numerasi nasional, ia menekankan bahwa pada fase awal pendidikan, anak seharusnya lebih banyak dikenalkan pada konsep berpikir logis, bukan langsung dibebani perhitungan kompleks.
Ia membandingkan dengan pendekatan di Australia, di mana matematika dasar diajarkan melalui permainan dan aktivitas sederhana yang merangsang nalar. Sementara di Indonesia, konsep seperti perkalian dan pembagian sudah dikenalkan sejak kelas awal sekolah dasar.
Menurutnya, pendekatan yang terlalu cepat masuk ke hitungan formal berpotensi membuat anak kehilangan minat dan bahkan merasa takut terhadap matematika. Dampaknya bisa berlanjut hingga jenjang pendidikan berikutnya.
Untuk itu, pemerintah menggandeng berbagai pihak dalam program kolaborasi nasional yang menyasar ratusan sekolah dan ribuan guru di sejumlah daerah. Program ini akan diuji coba di beberapa provinsi dengan harapan bisa menjadi model pembelajaran yang lebih efektif dan ramah bagi siswa.
Langkah ini diharapkan dapat mengubah cara pandang terhadap matematika, dari pelajaran yang menakutkan menjadi proses belajar yang menyenangkan dan membangun kemampuan berpikir anak sejak dini.





