Kutip.id,Samarinda Sejarah sering kali menempatkan perempuan di pinggir narasi besar. Namun di Kalimantan Timur, ada jejak kuat lima tokoh perempuan yang justru berperan penting dalam membentuk arah pendidikan, politik, hingga semangat kebangsaan di daerah tersebut.
Sejarawan publik Muhammad Sarip mengungkap bahwa kiprah mereka menunjukkan perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan aktor utama dalam perubahan sosial di Kalimantan Timur.
Tokoh pertama, Aminah Syukur, menjadi pelopor pendidikan perempuan di masa kolonial. Pada 1928, ia mendirikan sekolah khusus perempuan pribumi sebagai upaya membuka akses pendidikan yang saat itu masih sangat terbatas bagi kaum perempuan.
Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, muncul nama Salbiah yang aktif dalam organisasi pemuda. Ia dikenal berani menyuarakan semangat nasionalisme dalam forum besar pemuda Kalimantan pada 1948, ketika isu persatuan bangsa masih dalam tahap krusial.
Di ranah politik, Djumantan Hasyim mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang duduk di parlemen daerah. Pada era 1950-an, ia tidak hanya menjadi simbol keterwakilan perempuan, tetapi juga berperan dalam meredam konflik politik di tingkat lokal.
Kontribusi penting juga datang dari tokoh keturunan Tionghoa, Nyonya Lo Beng Long atau Dorinawati Samalo. Pada 1962, ia menghibahkan rumah pribadinya yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Mulawarman, institusi pendidikan tinggi yang kini menjadi kebanggaan daerah.
Sementara itu, Fatimah Moeis menunjukkan kiprah berbeda. Ia memimpin Korps Sukarelawati Kaltim pada 1963 setelah menjalani pelatihan militer, sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi situasi konfrontasi nasional saat itu.
Kisah kelima tokoh ini diangkat kembali dalam sebuah buku yang mengulas peran perempuan dalam sejarah lokal yang kerap terabaikan. Narasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kontribusi perempuan dalam perjalanan bangsa tidak kalah signifikan, meski sering luput dari perhatian arus utama sejarah.
Di tengah upaya mendorong kesetaraan gender saat ini, pengungkapan kembali kisah-kisah seperti ini dinilai penting untuk memperkaya perspektif publik sekaligus menginspirasi generasi muda tentang peran perempuan dalam membangun Indonesia.




