Kutip.id, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, semakin serius menjalankan transformasi ekonomi dengan mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif, seperti pertambangan dan penggalian. Arah pembangunan kini digeser menuju sektor nonekstraktif yang lebih berkelanjutan, terutama pertanian, pariwisata, serta industri kreatif.
Bupati Kukar, dr. Aulia Rahman Basri, menegaskan langkah ini sejalan dengan visi-misi daerah. Dalam misi kedua Kukar Idaman Terbaik, pemerintah menekankan pentingnya pengembangan hilirisasi sektor pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif sebagai fondasi utama pembentukan ekonomi baru.
“Kami ingin membangun ekonomi Kukar yang lebih tangguh, tidak lagi bergantung pada tambang. Pertanian, pariwisata, dan ekonomi kreatif akan menjadi motor penggerak baru untuk masa depan,” ujar Aulia di Tenggarong, Kamis.
Transformasi yang dijalankan sudah mulai membuahkan hasil. Data menunjukkan produksi padi Kukar terus mendominasi di Kalimantan Timur. Pada 2023, Kukar berhasil menghasilkan 115.103 ton gabah kering giling (GKG), menjadikannya produsen padi terbesar di provinsi ini. Peringkat kedua ditempati Kabupaten Penajam Paser Utara dengan 45.100 ton GKG, disusul Kabupaten Paser sebesar 28.608 ton GKG.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim 2024, luas panen padi di provinsi ini mencapai 57.143 hektare. Dari jumlah tersebut, Kukar menyumbang 26.744 hektare atau sekitar 46,80 persen. Kontribusi besar ini membuat Kukar semakin diakui sebagai lumbung pangan Kaltim, sekaligus calon penopang utama kebutuhan pangan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Produksi padi Kukar tahun 2024 mencapai 115,10 ribu ton GKG atau sekitar 50,71 persen dari total produksi padi di Kaltim. Dengan adanya IKN, peran Kukar sebagai pemasok pangan strategis akan semakin vital,” tambah Aulia.
Untuk memperkuat posisi tersebut, Pemkab Kukar terus mendorong lahirnya generasi petani, nelayan, dan peternak yang lebih tangguh. Berbagai program dilaksanakan, mulai dari pelatihan, pendampingan, hingga magang, yang disertai dengan penyediaan sarana dan prasarana modern.
Menurut Aulia, generasi muda kini lebih tertarik pada pertanian modern yang memanfaatkan teknologi. Karena itu, modernisasi sektor pertanian menjadi kunci dalam membentuk petani dan nelayan milenial yang adaptif dan produktif.
“Program ini bertujuan mencetak petani dan nelayan milenial yang mampu mengelola pertanian maupun perikanan dengan pendekatan modern. Ini adalah bagian nyata dari transisi ekonomi berbasis sumber daya ekstraktif menuju sumber daya terbarukan dan nonekstraktif,” jelasnya.
Selain itu, Pemkab Kukar juga tengah membangun kawasan pertanian strategis yang terintegrasi. Kawasan ini dirancang untuk menciptakan simpul ekonomi berbasis sumber daya terbarukan yang lebih efisien, dengan keterkaitan erat antara sektor hulu dan hilir.
Melalui strategi ini, Kukar tidak hanya ingin menjaga ketahanan pangan daerah, tetapi juga membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal. (Ysa)





