Kutip.id,Antaranews-Samarinda upaya meningkatkan daya saing produk perkebunan terus digencarkan pemerintah di Kalimantan Timur. Melalui serangkaian pelatihan di tahun 2026, Dinas Perkebunan setempat mendorong petani tak hanya panen, tetapi juga mampu mengolah dan memasarkan hasilnya secara lebih bernilai.
Program ini menyasar kelompok tani di empat wilayah berbeda, dengan fokus pada peningkatan keterampilan teknis sekaligus pemanfaatan alat pascapanen yang selama ini belum optimal digunakan.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Disbun Kaltim, Taufiq Kurrahman, menjelaskan bahwa masih banyak kelompok tani yang menerima bantuan mesin namun belum memahami cara pengoperasian maupun perawatannya. Kondisi ini membuat potensi peningkatan nilai produk belum tergarap maksimal.
“Pelatihan ini jadi langkah konkret agar petani tidak hanya bergantung pada hasil mentah, tapi juga mampu menghasilkan produk olahan yang punya nilai tambah,” ujarnya.
Pelatihan dilakukan secara tematik di sejumlah daerah. Di kawasan Marangkayu, petani dibekali teknik pengolahan kopi luwak. Sementara di Balikpapan, fokus pelatihan mencakup penggunaan mesin pengolah lada hingga strategi pemasaran.
Di wilayah Tanah Grogot, petani diajak berinovasi mengolah kelapa menjadi produk keripik bernilai jual tinggi. Sedangkan di Sangatta Selatan, pelaku usaha aren mendapatkan pelatihan pengolahan gula aren sekaligus strategi distribusinya.
Selain meningkatkan keterampilan, program ini juga menjadi dasar bagi pemerintah untuk memetakan kebutuhan alat dan fasilitas pascapanen di tingkat kelompok tani secara lebih akurat.
Di sisi pemasaran, pemerintah daerah turut mendorong pemanfaatan gerai “Toko Kebun Kaltim” sebagai etalase produk olahan lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas.
Dengan potensi tujuh komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, lada, kelapa, kakao, kopi, dan aren, Kalimantan Timur dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi di pasar ekspor—asal didukung oleh SDM yang terampil dan inovatif.
Program ini menjadi sinyal bahwa masa depan sektor perkebunan tak lagi hanya soal produksi, tetapi juga kreativitas dan kemampuan membaca pasar.





