Samarinda Percepat Tekan Stunting, Program MBG dan Genting Jadi Andalan

No comments

Kutip.id, Samarinda – Pemerintah Kota Samarinda terus memperkuat langkah dalam menekan angka stunting dengan strategi yang semakin terarah. Salah satunya melalui penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok rentan yang dipadukan dengan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda, Deasy Evriyani, menjelaskan bahwa upaya pencegahan stunting dilakukan secara kolaboratif lintas sektor, tidak hanya berfokus pada bantuan makanan semata.

“Pendekatan kami menyasar keluarga rentan stunting dengan intervensi yang sesuai kebutuhan, baik nutrisi maupun non-nutrisi,” ujarnya.

Strategi tersebut menunjukkan hasil positif. Angka stunting di Samarinda tercatat terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Dari 25,3 persen pada 2022, turun menjadi 24,4 persen di 2023, lalu merosot cukup signifikan ke 20,3 persen pada 2024, hingga mencapai 17,13 persen pada 2025.

Untuk menjaga tren penurunan ini, Pemkot kini memaksimalkan sinergi antara program MBG dan Genting, khususnya menyasar Kelompok 3B: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Pada ibu hamil, bantuan diberikan sejak masa kehamilan hingga masa menyusui dan berlanjut hingga anak berusia dua tahun. Sementara bagi ibu menyusui, dukungan nutrisi diteruskan hingga anak mulai mengonsumsi makanan pendamping.

Adapun untuk bayi di bawah dua tahun (baduta), bantuan difokuskan pada fase usia 6–23 bulan, yakni periode krusial pertumbuhan anak.

Di lapangan, program ini melibatkan berbagai pihak mulai dari kader posyandu, dokter spesialis anak, psikolog, hingga komunitas dan influencer parenting. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat edukasi sekaligus memastikan intervensi tepat sasaran.

Menu yang diberikan pun dirancang memenuhi standar gizi, berupa makanan siap santap atau kudapan tinggi protein hewani dengan nilai minimal Rp15 ribu per hari per orang selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Durasi bantuan bersifat fleksibel, menyesuaikan kondisi masing-masing penerima. Namun secara umum, bantuan mencakup pemenuhan nutrisi selama periode 1.000 HPK atau setidaknya selama tiga bulan intervensi intensif.

Dengan pendekatan terintegrasi ini, Samarinda optimistis mampu menekan angka stunting lebih jauh sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.

Also Read

Bagikan: