Kutip.id, Samarinda – Pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 megawatt resmi dimulai di Kalimantan Timur. Proyek energi terbarukan tersebut digadang-gadang menjadi salah satu pembangkit listrik hijau terbesar di wilayah Kalimantan.
Peresmian pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama yang dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah di Samarinda, Senin (25/5).
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan proyek ini menjadi bagian penting dari strategi nasional menuju target emisi nol bersih sebelum 2060.
Menurutnya, pengembangan energi terbarukan seperti PLTA sangat dibutuhkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di tengah ketidakpastian global.
Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai hampir Rp13 triliun. Pemerintah menilai pembangunan PLTA juga akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut pembangkit hidro ini memiliki biaya produksi listrik yang kompetitif dan berpotensi menjadi sumber energi jangka panjang di Kalimantan.
Ia optimistis proyek tersebut dapat rampung lebih cepat dari target awal apabila proses konstruksi berjalan sesuai rencana.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menilai proyek PLTA Batoq Kelo akan memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai pusat pengembangan ekonomi hijau dan perdagangan karbon di kawasan Asia Pasifik.
Selain menyediakan pasokan listrik, pembangunan proyek ini juga akan diikuti pengembangan akses jalan dan jembatan yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan daerah lain di Pulau Kalimantan.
Pemerintah daerah berharap keberadaan proyek energi bersih tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan pemerataan pembangunan di kawasan terpencil.




