Kutip.id,Kutai Kartanegara – Dinamika politik di Kutai Kartanegara kembali menghangat setelah muncul pernyataan tokoh senior Marwan yang menyinggung istilah “duel”. Pernyataan itu memicu beragam tafsir di ruang publik, bahkan dikhawatirkan menciptakan persepsi rivalitas yang tidak sehat.
Menanggapi hal tersebut, PDI Perjuangan Kutai Kartanegara memilih bersikap tenang namun tegas. Sekretaris DPC, Andi Faisal, menegaskan bahwa pihaknya tetap menghormati Marwan sebagai tokoh berpengalaman, meski menyayangkan penggunaan istilah yang dinilai kurang tepat.
“Kami cukup terkejut dengan narasi yang berkembang. Politik seharusnya tidak dibingkai sebagai pertarungan terbuka seperti itu,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Faisal, perbedaan pandangan adalah hal lumrah dalam demokrasi. Namun, penggunaan istilah seperti “duel” berpotensi menggiring opini publik ke arah konflik, bukan kompetisi sehat.
Ia menekankan bahwa selama ini PDI Perjuangan tidak pernah memandang pihak lain sebagai musuh politik. Sebaliknya, politik harus menjadi ruang adu gagasan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Yang terpenting bukan siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling mampu bekerja untuk rakyat,” tegasnya.
Lebih jauh, Faisal mengingatkan bahwa kondisi fiskal daerah saat ini membutuhkan perhatian serius. Karena itu, energi para pelaku politik seharusnya difokuskan pada solusi dan pelayanan publik, bukan pada narasi yang memicu kegaduhan.
Ia pun mengajak seluruh elemen politik di Kukar untuk menjaga suasana tetap kondusif demi keberlanjutan pembangunan daerah.
“Jangan habiskan energi untuk hal-hal yang tidak produktif. Politik harus jadi alat untuk membangun, bukan memperkeruh keadaan,” tutupnya.
Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan pembangunan, pesan ini menjadi pengingat bahwa stabilitas politik bukan sekadar wacana, melainkan fondasi utama kemajuan daerah.





