Kutim Kembangkan Maggot BSF, Sampah Organik Diolah Jadi Pakan Ternak

No comments

Kutip.id, Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, mendorong pengembangan maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai alternatif pakan ternak lokal. Program tersebut melibatkan sektor swasta, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Dilansir dari antarakaltim.com, Pengembangan maggot diarahkan untuk mengurangi ketergantungan peternak terhadap pasokan pakan dari luar daerah. Selain menekan biaya produksi, program ini juga memanfaatkan limbah organik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.

Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim Purno Edi mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam mengembangkan sistem pakan lokal.

“Kolaborasi menjadi kunci pengembangan budidaya ini, mengingat pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Tingginya biaya pakan ternak menjadi tantangan utama yang memengaruhi harga jual dan daya saing produk peternakan,” ujar Purno Edi di Sangatta, Selasa (22/9).

Menurutnya, ketergantungan terhadap pakan dari luar daerah membuat sektor peternakan rentan terhadap gangguan distribusi dan perubahan kondisi cuaca. Karena itu, ketersediaan bahan pakan dari sumber lokal dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternakan.

Program tersebut diperkuat melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan budidaya maggot serta peternakan ayam kampung terpadu. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut pembahasan pengembangan peternakan yang sebelumnya dilakukan pada Juni 2026.

Dalam sistem yang diperkenalkan, sampah organik dan sisa makanan dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan larva BSF. Maggot yang dihasilkan kemudian dapat digunakan sebagai bahan pakan untuk sejumlah jenis ternak.

“Larva yang dihasilkan kemudian diolah menjadi pakan ayam, ikan, kambing, maupun pakan sapi, sehingga sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan, berubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi dalam satu siklus produksi,” jelas Purno.

Perwakilan Komunitas Peternak Mandiri Ali Mahmudi mengatakan konsep tersebut telah mulai dikembangkan sejak 2021. Komunitasnya kemudian membangun sistem yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan budi daya maggot, peternakan, dan perikanan.

“Jangan menyalahkan pihak lain atas sampah yang kita hasilkan. Mari bertanggung jawab mulai dari rumah tangga. Sisa makanan dapat diubah menjadi pakan, sehingga giat ini tidak sekadar mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan pangan,” kata Ali.

Pengembangan program tersebut melibatkan sejumlah pihak, di antaranya PT Pama Persada Nusantara, PT Pertamina, Bankaltimtara, perguruan tinggi, komunitas, serta masyarakat.

Peserta juga mendapatkan pelatihan teknis agar dapat mengembangkan budi daya maggot secara mandiri di lingkungan masing-masing. Pemkab Kutim mendorong agar program tersebut dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya pemuda dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pemerintah daerah juga membuka peluang pendampingan melalui penyuluh pertanian lapangan. Masyarakat dapat mengajukan proposal untuk mendapatkan dukungan program sesuai kebutuhan di wilayah masing-masing.

Pengembangan maggot BSF di Kutim diharapkan dapat membentuk rantai produksi yang saling terhubung, mulai dari pengelolaan sampah organik, produksi pakan, peternakan, hingga pengembangan usaha masyarakat.

Also Read

Bagikan: