Kutip.id – Laporan terbaru UNICEF kembali menegaskan bahwa anak-anak Indonesia berada dalam kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Risiko yang mengancam bukan hanya terkait kesehatan akibat polusi udara, tetapi juga keselamatan dan pendidikan yang terganggu oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Situasi ini tampak jelas pada banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (2/12/2025) mencatat 712 orang meninggal dunia, 507 orang hilang, dan 2.564 lainnya luka-luka. Ribuan sekolah rusak, membuat puluhan ribu pelajar kehilangan akses belajar, sementara aktivitas puluhan perguruan tinggi di wilayah terdampak ikut lumpuh.
Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), lebih dari 1.000 sekolah terdampak banjir dan longsor, menambah daftar panjang kerugian sosial akibat bencana yang kini makin sering terjadi.
Pakar Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM, Dr. Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa kerusakan lingkungan menjadi faktor utama yang memperparah bencana. Hilangnya hutan di kawasan hulu menciptakan penumpukan sedimen yang mempersempit aliran sungai dan meningkatkan risiko banjir bandang.
“Hutan hulu adalah sabuk pengaman alami. Ketika sabuk ini rusak, maka kawasan di bawahnya kehilangan pelindung utama dari banjir,” jelasnya dalam rilis UGM, Rabu (3/12/2025).
UNICEF juga menyoroti bahwa Indonesia berada di daftar negara paling rentan terhadap krisis iklim. Anak-anak menjadi kelompok yang paling mudah terdampak mulai dari paparan penyakit akibat vektor, polusi udara, hingga kekurangan layanan penting seperti kesehatan dan pendidikan.
“Krisis iklim adalah krisis hak anak,” tegas Perwakilan UNICEF, Debora Comini. Ia menambahkan bahwa situasi dapat menjadi semakin buruk apabila negara tidak bergerak cepat mengurangi emisi. UNICEF mendorong negara-negara berisiko tinggi untuk menekan emisi global hingga 45 persen pada 2030, sesuai target untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius.
Isu deforestasi yang memperparah dampak krisis iklim juga menjadi sorotan internasional. Studi Climate Change Communication Yale Program (2023) yang dipimpin Anthony Leiserowitz menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam sepuluh besar negara penghasil emisi rumah kaca. Sebagian besar berasal dari deforestasi dan pembukaan lahan gambut yang kaya karbon untuk pertanian, terutama untuk perkebunan kelapa sawit, disusul emisi sektor energi berbasis bahan bakar fosil.
Laporan Global Forest Watch 2023 juga menunjukkan Indonesia kehilangan lebih dari 28 juta hektar tutupan pohon dalam rentang 2001–2021 luas yang melebihi seluruh wilayah Inggris Raya. Kondisi ini membuat Indonesia berada di peringkat lima negara dengan risiko banjir dan kenaikan permukaan air laut tertinggi di dunia.
Peneliti Yale tersebut menekankan bahwa persepsi publik terhadap perubahan iklim memainkan peran penting dalam mendorong kebijakan yang tepat. Kesadaran publik terhadap ancaman deforestasi dan kebakaran hutan menjadi salah satu faktor yang menentukan arah penanganan krisis iklim di Indonesia.
Di tengah situasi yang terus memburuk, para ahli mengingatkan bahwa perlindungan terhadap generasi mendatang tidak boleh lagi ditunda. Tanpa penanganan serius terhadap deforestasi, polusi, dan pengurangan emisi, anak-anak Indonesia akan terus berada di garis depan risiko krisis iklim yang semakin ekstrem.
Sumber: Detik.com





