Kutip.id,JAKARTA – Rencana impor 105.000 kendaraan niaga asal India untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih menuai kritik karena dinilai berpotensi menekan industri otomotif nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan skema tersebut tidak menambah beban baru pada APBN. Pengadaan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara dibiayai pinjaman dari Himpunan Bank Milik Negara dan dicicil sekitar Rp 40 triliun per tahun selama enam tahun, dengan pengalihan sebagian dana desa yang sudah dianggarkan.
Agrinas mengimpor masing-masing 35.000 unit pikap 4×4 dari Mahindra & Mahindra serta 35.000 pikap 4×4 dan 35.000 truk roda enam dari Tata Motors. Manajemen menyebut harga lebih kompetitif dan pasokan lebih cepat sebagai alasan utama. Sebanyak 1.000 unit telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok.
Namun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menyatakan kapasitas produksi dalam negeri sebenarnya mencukupi. Kementerian Perindustrian memperkirakan potensi nilai tambah hingga Rp 27 triliun bisa tercipta jika produksi dilakukan di dalam negeri.
Sejumlah pihak menilai kebijakan impor besar-besaran tersebut perlu dikaji ulang agar tidak mengorbankan peluang kerja dan pertumbuhan sektor manufaktur nasional.





